PONTIANAK – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag., menegaskan pentingnya kedaulatan ekonomi bagi umat Islam Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) MUI Wilayah V se-Kalimantan di Kalimantan Barat, Jumat, 21/7.
Dalam paparannya, tokoh yang akrab disapa Buya Anwar Abbas ini menyoroti bahwa secara statistik umat Islam merupakan mayoritas di Indonesia, yakni sekitar 87 persen. Namun, penguasaan di sektor riil ekonomi dan kapital masih didominasi oleh kelompok minoritas.
“Dari 12 elit strategis penggerak bangsa—mulai dari agamawan, politisi, birokrat, hingga akademisi—umat Islam mengisi posisi mayoritas. Namun, ada satu sektor kunci yang lepas dari genggaman umat, yaitu elit pengusaha dan pemegang modal,” ujar Buya Anwar Abbas di hadapan para ulama dan pimpinan ormas Islam.
Mengutip teori oligarki modern dan pandangan pakar internasional, ia mengingatkan bahwa arah kebijakan suatu bangsa kerap ditentukan oleh pihak yang menguasai sumber daya material dan finansial. Ketika kekuatan politik berpadu dengan dominasi kapital tanpa diimbangi kemandirian ekonomi umat, kondisi tersebut rentan melahirkan politik transaksional dan tirani kekuasaan.
Dorong Reformasi Pendidikan dan ‘Hijrah Mentalitas’
Untuk mengubah peta penguasaan ekonomi nasional pada masa depan, Anwar Abbas menekankan perlunya langkah nyata berupa perombakan pola pikir generasi muda Islam.
“Umat harus melakukan hijrah mentalitas, dari employee mentality (mental pencari kerja) menuju entrepreneur mentality (mental wirausahawan). Dunia pendidikan kita tidak boleh hanya mencetak lulusan yang sibuk mencari lowongan, tetapi harus mampu melahirkan pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen ormas Islam dan pengelola lembaga pendidikan formal maupun nonformal untuk menyuntikkan kurikulum kewirausahaan sejak dini.
Selain penguatan pendidikan, Buya Anwar Abbas membeberkan kunci sukses etos bisnis yang perlu diteladani umat, antara lain:
* Menumbuhkan budaya gemar menabung dan menghindari ketergantungan utang konsumtif berbunga tinggi.
* Menerapkan gaya hidup sederhana (frugal living).
* Mengubah paradigma perdagangan ke arah perputaran volume barang yang tinggi dengan margin wajar.
* Memegang teguh prinsip kesungguhan dan kerja keras (man jadda wajada).
Sebagai penutup, ia mengajak umat Islam untuk mengonsolidasikan potensi pasar internal yang sangat besar. Menurutnya, kesadaran jamaah dalam mendukung dan membeli produk-produk dari unit usaha milik sesama warga Muslim akan menjadi pemicu utama lahirnya konglomerat-konglomerat baru dari kalangan umat Islam di masa depan.