Buka Puasa Bersama MUI Kalbar: Soroti Fenomena ‘Bukber’ Lupa Salat hingga Tantangan Dakwah di Era Digital

Buka Puasa Bersama MUI Kalbar: Soroti Fenomena ‘Bukber’ Lupa Salat hingga Tantangan Dakwah di Era Digital

PONTIANAK – kalbar.mui.or.id,  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat menggelar acara Buka Puasa Bersama dan Silaturahim Pengurus MUI Kalbar  Tahun 2026 M / 1447 H. Mengambil tempat di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kalbar, Sabtu, 7/3.

kegiatan yang berlangsung pada hari ke-18 Ramadan ini tidak hanya menjadi ajang mempererat ukhuwah, tetapi juga sarana refleksi atas berbagai fenomena sosial dan tantangan dakwah umat Islam saat ini.

Ketua Umum MUI Kalbar, Drs. K.H. Basri Har, dalam sambutannya menyoroti menurunnya semangat ibadah umat seiring berjalannya bulan Ramadan. Ia mengibaratkan esensi Ramadan seharusnya seperti buah kelapa, di mana semakin tua akan semakin tinggi kadar minyaknya, bukan seperti tebu yang manis di pangkal namun hambar di ujung.

Lebih lanjut, K.H. Basri Har juga menyampaikan keprihatinannya terhadap tren buka puasa bersama (bukber) di hotel atau kafe yang sering kali melalaikan kewajiban salat Magrib.

“Semangat masyarakat antusias sekali untuk buka bersama di tempat-tempat tersebut. Tetapi yang menjadi keprihatinan, begitu sudah buka puasa, hampir 50 persen lebih tidak beranjak untuk melaksanakan salat Magrib. Apa artinya puasa kalau salat ditinggalkan? Ke depan, MUI dan ormas Islam perlu mencari metode yang tepat untuk menyikapi tradisi ini,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kalbar, Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi mendalam atas peran MUI sebagai mitra strategis pemerintah dan penyejuk di tengah masyarakat. Terkait fenomena bukber, ia mengusulkan agar MUI dapat memberikan panduan atau imbauan yang bijak.

“Buka puasa bersama adalah tradisi baik untuk silaturahim. Namun, mungkin ke depan perlu ada semacam panduan tata aturan. Selain itu, kita mungkin bisa lebih cenderung mengampanyekan ‘Sahur Bersama’, karena bukber yang berkepanjangan juga sering kali berdampak pada saf salat Tarawih yang menjadi mundur,” ujar Muhajirin Yanis.

Ia juga menegaskan komitmen Kemenag untuk terus bersinergi dengan MUI, termasuk mempersilakan penggunaan fasilitas aula Kanwil Kemenag untuk berbagai kegiatan MUI di luar hari kerja.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI Kalbar, Prof. Dr. K.H. Wajidi Sayadi, M.Ag. Dalam ceramahnya, ia menekankan peran ulama sebagai pewaris nabi yang bertugas menjelaskan kandungan Al-Qur’an dan memberikan panduan moral di tengah masyarakat yang majemuk.

Prof. Wajidi secara khusus menyoroti tantangan dakwah di era post-truth dan digital saat ini, di mana otoritas keagamaan mulai bergeser dari para kiai dan lembaga keagamaan ke media sosial. Ia mendorong para pendakwah untuk adaptif dan tidak ragu memanfaatkan platform digital.

“Dunia hari ini sangat berbeda. Generasi Z dan Alpha memiliki identitas tersendiri. Kalau dulu ilmu agama mutlak dari kiai, sekarang otoritas itu sudah diambil alih oleh media. Karena itu, pola dan metode dakwah harus terus diperbarui. Gunakanlah media sosial, podcast, TikTok, dan Instagram. Selain itu, menulislah. Kemampuan intelektual dan dakwah harus diabadikan lewat tulisan agar meninggalkan warisan peradaban,” pesan Prof. Wajidi.

Rangkaian acara silaturahim ini kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Saifuddin Zuhri, M.Pd., sebelum seluruh pengurus dan tamu undangan membatalkan puasa bersama-sama dalam suasana penuh keakraban. (Ref)

Share this post