IN MEMORIAM H. PURWANTO (1963-2026)

IN MEMORIAM H. PURWANTO (1963-2026)

 

Penulis : M. Nashir Syam

Magetan Jawa Timur dini hari (Senin, 29/06/26) masih berselimut embun, udara dingin-menusuk kalbu. Ayam jantan masih enggan berkokok membangunkan tidur warga Desa Ngampon Takeran, tak jauh dari pusat kota.

Haji Purwanto (AIPTU, Purn) pria yang nanti 1 Oktober tahun ini genap berusia 63 tahun telah kembali keharibaan Allah SWT dalam keadaan sedang shalat tahajud, sebuah ritual rutin yang tak pernah ia tinggalkan, seolah shalat tahajud menjadi ibadah wajib baginya. Wafat dengan tenang, di wajahnya masih tersisa titik-titik air wudhu, sebuah “kepergian” yang pastinya dicemburui oleh banyak orang. Sebelumnya tidak ada keluhan apapun terkait dengan penyakitnya. Memang setahun yang lalu pria santun yang oleh kawan akrabnya sering dipanggil “Pak Pur” ini pernah menjalani operasi hernia, setelah itu kesehatannya agak menurun. Sekalipun begitu, sesekali dengan isteri tercintanya Mariyani jalan-jalan sekedar melemaskan kaki, atau mencari sarapan di warung orang Madura, di depan Masjid Mujahidin Jalan Diponegoro Ketapang.

Siapa Pak Haji Pur ini ?

AIPTU (Purn) H. Purwanto, lahir di Magetan 1 Oktober 1963 adalah pensiunan Polres Ketapang, jabatan terakhir sebagai anggota Sat Binmas. Sejak tahun 2021 bersamaan dengan momen purna tugasnya di kepolisian ia diberi amanah sebagai Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI Kabupaten Ketapang. Satu tahun kemudian atas rekomendasi MUI ia diberi amanah pula untuk bergabung di F0rum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ketapang (2022-2027).

Sekalipun seorang mantan polisi, tapi tak sedikitpun menyisakan sebuah kesan ‘garang’ , sangar atau galak dan sebagainya. Justeru bawaannya kalem, tenang, sejuk dipandang dan santun berbicara. Kendati berpuluh-puluh tahun bertugas di Ketapang, bahkan bertemu jodoh pula di Ketapang akan tetapi Bahasa Jawa halusnya masih terpatri kuat padanya. Saat berinteraksi dengan ‘komunitas Jawi’ di tanah rantau, Bahasa Jawa halusnya (atau kromo inggil) tetap ia gunakan. Isyarat bahwa, sejauh apapun ia pergi pastinya tanah kelahiran tetap terpatri di hati. Itulah garis hidup, mengapa ia mengabdi di tanah rantau tapi justru kembali keharibaan ilahi di tanah di mana ia dilahirkan.

Bertugas dalam senyap

Perannya di FKUB, sejatinya sangat strategis. Tak ada tugas khusus yang diberikan kepadanya. Ia berperan, bergerak dan bertugas  dalam senyap. Hampir koleganya tak ada yang tahu bahwa di balik berita-berita kegiatan FKUB Ketapang yang dipublish oleh website FKUB provinsi ada sosok yang sekalipun “usianya sudah tak muda lagi” tapi jemarinya masih lincah memantulkan huruf-huruf di ponselnya. Sebagaimana jemarinya pada setiap kesempatan selalu memutar biji tasbih, dan tak pernah berhenti puasa sunnah Senin-Kamis.

Hampir setiap kali ada kegiatan atau acara, Pak Pur mengirimkan notesnya kepada penulis (saya, M. Nashir Syam) via WA. Kemudian penulis mengolah, meramu sesuai dengan kode etik jurnalistik (Abdi Kasim=apa, bagaimana, di mana, kapan, siapa, mengapa). Infonya itu menjadi news yang layak dipublikasikan. Penulis kemudian mengirimkannya ke admin website FKUB Provinsi, maka jadilah sebuah berita. Dan karena banyaknya berita yang kami kirim itulah, pada tahun 2025 FKUB Ketapang mendapatkan sertifikat penghargaan dari FKUB Provinsi. Ini sejatinya adalah tak lain hasil dari “kerja senyap” almarhum.

Rasanya tak berlebihan kalau ia layak disebut ‘pejuang moderasi’ . Kiprahnya di FKUB memang tak begitu mengemuka, tak ada tanda tangan yang menunjukkaan ia orang penting, tak ada piagam penghargaan atas prestasinya dalam menjaga harmoni beragama, karena sebagaimana posisi penulis sendiri, keberadaan di FKUB sejatinya adalah semata-mata wujud ikhtiar kontribusi menjaga harmoni kehidupan keber-agamaan di Ketapang, tanpa pamrih. Tapi dengan tak banyak cakap, Pak Pur selagi sehat dan waktu luang ia pasti hadir memenuhi undangan pada acara yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan kegiatan inernal FKUB. Dan seperti biasa, dengan setia mengirimkan resume kegiatannya ke penulis.

Paham dan perilakunya, menjadi contoh bagi yang lain bahwa mensosialisasikan moderasi beragama itu tak harus dengan menjadi seorang nara sumber, tak harus memegang mic-berbicara di depan publik, dan tak harus membuat artikel. Tapi memberi contoh teladan bagaimana menghargai orang lain, berempati kepada sesama dan dengan bahasa yang santun cukup menjadi kesan mendalam bagi mitranya.

Beristirahat dengan tenang

Senin dini hari itu,  saat orang-orang masih tertidur lelap. Di atas sajadah itu, tidur untuk selamanya dengan tenang, seorang hamba yang saleh. Magetan Jawa Timur menjadi saksi berpulangnya seorang pria santun, seorang suami yang penyayang di mata isteri tercinta Mariyani. Dan sosok seorang ayah yang mengayomi keluarga. Di mata ketiga putra-putrinya Linda, Dadik dan Opick. Nama yang terakhir, si bungsu Opick ini melanjutkan kiprah bapaknya sebagai polisi di Kabupaten Kayong Utara. Adapun yang pertama dan kedua sebagai seorang pendidik.

Pak Haji Pur sudah tiada, meninggalkan semuanya ; rekan-rekan sejawat di kepolisian Ketapang, sahabat-sahabatnya di MUI dan mitra-tugasnya di FKUB Ketapang. Mengapa tidak dikembmikan di Ketapang, ladang pengabdiannya selama berpuluh tahun ? Tuhan berkehendak lain, ia kembali kepada-Nya justeru di tempat ia dilahirkan. Dan disaksikan oleh ibundanya yang sudah sangat sepuh. Sekali waktu, pernah berbicara dengan penulis, harapannya ia ingin sekali merawat ibundanya sampai suatu saat apabila ajal menjemput sang ibu. Makanya kadang berlama-lama pulang kampung, biasanya kalau Ramadhan tiba. Tapi lagi-lagi, Tuhan yang Maha Kasih berkehendak lain, justeru ia mendahului sang ibundanya.

Pak Haji Pur sudah menghadap Allah. Banyak yang merasa kehilangan, anak-anak yatim yang ia jadikan ladang amal. Kesan-kesan kebaikan yang tertanam di hati rekan-rekannya dan semuanya… siapapun yang pernah bersua dengannya sekali waktu, jamaah di surau yang ia istiqomah menghabiskan maghrib hingga Isya di sana, sambil berzikir dan tilawah al-Qur’an dan bincang-bincang harmoni di sekretariat FKUB Ketapang. Jejak kebaikannya tidak tertulis dalam sebuaah piagam atau prasasti, tapi abadi terpatri dalam sanubari-siapapun yang mengenalnya.

Selamat jalan Pak Haji Pur, engkau memang sudah mendahului kami, mulai melaksanakan sebuah perjalanan panjang pada jalan keabadian menghadap ilahi. Tapi bagi kami engkau selalu dihati sanubari, membersamai kami bersama keteladanan yang engkau contohkan.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang rdhadan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam sorga-Ku” (QS. Al-Fajr : 27-30)

 

 

 

 

Share this post