Lailatul Qadar itu Bersifat Umum atau Khusus ?

Lailatul Qadar itu Bersifat Umum atau Khusus ?

 

Oleh : Muhammad Nashir Syam

Perbincangan di kalangan para ulama terkait lailatul qadar, antara lain berkisar pada sebuah pertanyaan, apakah lailatul qadar itu sebuah malam yang bersifat umum, dialami oleh semua umat muslim sehingga pahala yang berkaitan dengannya juga dapat diraih oleh siapa saja yang melakukan qiyam saat itu. Atau, apakah bersifat khusus ; hanya bagi sebahagian orang yang merasakan (atau melihat) tanda-tandanya, mimpi atau ada karamah luar biasa yang terjadi pada dirinya dan tidak terjadi pada orang lain ?

Beberapa ulama berpendapat bersifat umum, didasarkan pada hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a : “Barangsiapa yang melakukan qiyam lailatul qadar, maka ia akan menjumpainya”.
Juga berdasar hadits Aisyah r.a, “Apa pendapatmu ya Rasul seandainya aku menjumpai lailatul qadar, doa apakah yang aku ucapkan ? Kemudian Beliau menjawab :
اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عني
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaaf. Karena itu, maafkan aku “ (HR. Ibnu Majah dari Tirmidzi dari Aisyah r.a).

Mereka menafsirkan kata muwafaqah (menjumpai) dengan mengetahui, dan syarat mendapatkan pahala itu bersifat khusus dengan muwafaqah itu.

Ulama lain lebih memilih makna menjumpainya, yakni ia (lailatul qadar) itu datang dengan sendirinya, meskipun tidak diketahui karena untuk mendapatkannya tidak disyaratkan harus melihat sesuatupun, sebagaimana dikatakan oleh Imam Thabari.

Pernyataan sebahagian ulama yang mensyaratkan mengetahui lailatul qadar itulah yang kemudian menyebabkan banyak kalangan muslim awam berkeyakinan bahwa lailatul qadar adalah sebuah kekuatan dari “nur” yang dibuka untuk sebagian orang yang berbahagia dan tidak diberikan kepda yang lain. Kaena itulah orang-orang lalu mengatakan bahwa si Fulan telah mendapatkan lailatul qadar. Semua ini termasuk hal-hal yang tidak didasarkan kepada dalil yang jelas dari syariat.

Simpul kata dari risalah ini adalah, lailatul qadar itu bersifat umum, akan tetapi khusus didapatkan oleh orang yang bermujahadah mendapatkannya. Bagaimana mendapatkannya ? Yakni dengan “menghidupkan” malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana hadits yang banyak dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir.
Bagaimana ikhtiar menghidupkannya ? Ialah dengan mendekatkan diri kepada Allah ; memperbanyak shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir dan doa, silaturrahim, beramal kebaikan dan bersedekah, tentu semua dilakukan dengan penuh keikhlasan mengharapkan ridha Allah semata. Sebaliknya apabila momen-momen istimewa yang diberikan oleh Allah SWT itu dibiarkan berlalu begitu saja, maka orang yang bersangkutan tidak akan merasakan apa-apa dari lailatul qadar itu. Wallahu A’lam.

Share this post