Tafsir Al-Baqarah 183 ; Perspektif Teori Tiga Dimensi

Tafsir Al-Baqarah 183 ; Perspektif Teori Tiga Dimensi

 

Oleh : M. Nashir Syam, M.Pd.I

Three Dementional Theory atau teori tiga dimensi bertumpu pada pemikiran bahwa sebuah output akan mencapai maksimal apabila input dan prosesnya baik.
Teori ini menekankan pentingnya kolaborasi dimensi input dan proses yang sinergis dan optimal, menghasilkan output yang maksimal. Sederhananya, bila inputnya baik, tapi prosesnya kurang baik maka hasilnya kemungkinan kurang baik pula. Bila inputnya kurang tapi prosesnya baik, maka outputnya bisa baik bisa juga kurang.

Teori ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, Prof. Dr. Indra Jati Sidi seorang akademisi yang pernah menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud dalam sebuah bukunya menyampaikan sebuah pemikiran input output analysis Intinya adalah sebuah output akan baik apabila input dan prosesnya baik. Akan tetapi beliau lebih menekankan pada aspek proses dan konteksnya. Dalam arti, sekalipun inputnya kurang (baik) tapi kalau proses dan konteksnya baik, maka outputnya dipastikan baik. Input-output analysis yang ia kemukakan ini sangat tepat diimplementasikan dalam dunia industri dan pendidikan.

Untuk yang terakhir disebutkan (yakni pendidikan) ialah sebuah ikhtiar mencapai hasil yang baik dapat dicapai apabila memperhatikan input dan prosesnya. Seperti yang sudah disinggung di atas.

Pendidikan akan berhasil apabila prosesnya berjalan dengan baik, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi peserta didik. Bagaimanapun bagusnya sebuah sistem, apabila mengabaikan aspek peserta didik apalagi prosesnya kurang baik maka dipastikan hasil yang dicapai tidak seperti yang diharapkan.

Apa kaitannya dengan Al-Baqarah 183?
Mari kita “tengok” terjemahan ayat tersebut :
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Di mana inputnya ? Yang mana prosesnya dan apa outputnya ? Jawabannya tentulah inputnya adalah Orang-orang yang beriman Prosesnya adalah ash-shiyam atau berpuasa dan outputnya adalah bertakwa.

1. Input : Iman
Iman adalah keyakinan yang kuat dan mendalam. Iman menjadi bagian yang sangat fundamental dalam beragama (Islam), ia termasuk arkanuddin (rukun-rukun agama) yang pertama, setelah itu barulah Islam dan Ihsan.

Iman meliputi keyakinan akan eksistensi Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, hari berbangkit dan takdir yang baik dan buruk.

Iman dikatakan sempurna manakala meliputi 3 aspek, yakni diyakini dalam hati (tashdiq bilqalb), diucapkan dengan lisan (iqrarun billisan) dan dilakukan dengan perbuatan (af’al bil arkan).

Dengan demikian, Iman bukan hanya sekedar percaya dan yakin tetapi ia juga harus direfleksikan dengan komitmen dalam bentuk ucapan dan tindakan yang baik atau amal saleh. Dan melaksanakan puasa, adalah bahagian dari pengejawantahan keimanan itu.

2. Proses : Shaum
Dari teks ayat, nyatalah bahwa kewajiban berpuasa itu (hanyalah) diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Setelah kita mendapatkan input yang baik yakni beriman tadi, kemudian kita menjalani proses “tarbiyah” shaum Ramadhan maka diharapkan perjalanan spiritual itu berujung pada garis finish “la’allakum tattaqun” : agar kalian menjadi orang yang bertakwa.

Tentu proses ini harus ditegakkan sesuai dengan tuntunan syariat yang benar, ikhlas dalam menjalankannya dan tanpa berharap apa-apa kecuali keridhaan-Nya ; imanan wahtisaban. Maka berpuasa itu, berikhtiar menemukan jati diri seorang hamba yang dhaif di hadapan Sang Khaliq.

Berpuasa sejatinya adalah puncak perjalanan spiritual, maka buah dari perjalanan ini adalah lahirnya manusia-manusia baru, inilah yang disebut dengan minal ‘aidin wal fa’izin.

3. Output : Muttaqin
Di ujung ayat Allah SWT menegaskan, la’allakum tattaqun : agar kalian termasuk orang-orang yang bertakwa.

Takwa sering diartikan dengan berusaha menjalankan perintah Allah dan berusaha menjauhi larangan-laranganNya.

Sesungguhnya iman dan takwa seperti sebuah mata koin, tujuan iman adalah takwa. Sedang takwa tidak akan dicapai tanpa iman. Iman manusia harus dipupuk terus, karakteristik Iman manusia itu yazidu wayanqush (fluktuatif, bisa bertambah dan berkurang). Memupuk keimanan itu antara lain dengan proses shiyam.

Jadi output yang diharapkan adalah menjadi insan muttaqin, menjadi manusia-manusia baru yang suci bersih atau fitrah.

Ikhtiar mana tidak akan berhasil, manakala sedari awal tidak dilandasi dengan Iman (input) apalagi berpuasanya asal-asalan ; sebatas seremonial dan rutinitas tahunan. Atau ekstremnya cuma sekedar menggeser jadwal makan-minum. Berpuasa tanpa makna dan hikmah, malam kenyang siang haus dan dahaga. Begitu dan begitu seterusnya.

Input-output analysis dalam konteks beribadah puasa perlu dielaborasi agar hikmah dalam beribadah itu benar-benar membatin di dalam qalbu yang melahirkan puncak kesadaran tingkat tinggi yang menurut term kitab suci Al-Qur’an sebagai : la’allakum tattaqun.

Semoga tak ada yang sia-sia dari sebuah ikhtiar. Aamiin

*Penulis adalah sekretaris 1 MUI Kab Ketapang

Share this post