MENGINTIP GELIAT DAKWAH DI KETAPANG; Membaca Fenomena Jama’ah Sudut

MENGINTIP GELIAT DAKWAH DI KETAPANG; Membaca Fenomena Jama’ah Sudut

 

Oleh: M. Nashir Syam

Ketapang sesungguhnya bukan daerah yang sepi dari aktivitas dakwah. Jika kita mencoba mengintip kehidupan keagamaan masyarakat di kota ini, akan terlihat geliat dakwah yang cukup menggembirakan. Aktivitas keagamaan tumbuh melalui berbagai ruang, pendekatan, dan komunitas.

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang, misalnya, secara rutin menghadirkan kegiatan dakwah yang terjadwal, salah satunya “ngopi” ngobrol penuh inspirasi Kuliah Shubuh pada setiap Ahad subuh. Dan pada malam hari selepas shalat Maghrib hingga Isya dilaksanakan kajian keislaman.

Demikian pula masjid-masjid lainnya yang terus menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan umat. Belum lagi majelis-majelis taklim yang tersebar di berbagai lingkungan masyarakat, yang secara konsisten menjadi ruang belajar agama, memperdalam pemahaman keislaman, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.

Namun, ada fenomena menarik yang patut mendapat perhatian. Dakwah ternyata tidak selalu berlangsung di atas mimbar, di dalam masjid, atau melalui kegiatan keagamaan yang formal.

Salah satu contohnya adalah komunitas yang dikenal dengan sebutan Jamaah Kopi Sudut.

Namanya cukup unik. Mereka berkumpul di sebuah kafe bernama Sudut selepas salat Subuh. Sambil menikmati secangkir kopi, mereka berbincang tentang berbagai persoalan kehidupan, agama, dan keimanan. Mereka punya istilah sendiri untuk aktivitas tersebut: NGOPI, Ngobrol Perkara Iman.

Sederhana, tetapi sarat makna.

Di tengah kebiasaan sebagian orang yang menjadikan kafe sekadar tempat bersantai, komunitas ini justru menghadirkan suasana berbeda. Kafe menjadi ruang silaturahmi, diskusi keagamaan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Fenomena ini memberikan pelajaran bahwa dakwah tidak harus selalu dikemas dalam acara besar, dengan panggung megah, pengeras suara, dan susunan acara yang formal. Terkadang, percakapan sederhana di meja kopi justru menjadi pintu masuk untuk menyentuh kesadaran beragama seseorang.

Dakwah bisa hadir di mana saja, sepanjang ada niat baik, ilmu yang memadai, dan semangat mengajak kepada kebaikan.

Tetapi, ada satu ruang dakwah yang tampaknya masih membutuhkan perhatian lebih serius: dunia anak muda.

Coba kita perhatikan kehidupan malam di sejumlah kafe di Ketapang. Sepanjang malam, tempat-tempat tersebut ramai dikunjungi. Sebagian besar pengunjungnya adalah kaum muda. Mereka datang untuk berkumpul, bercengkerama, menikmati suasana, membicarakan berbagai hal, atau sekadar melepas penat setelah menjalani rutinitas harian.

Tentu, kita tidak boleh serta-merta memandang fenomena ini secara negatif. Berkumpul di kafe bukanlah sesuatu yang dengan sendirinya bertentangan dengan nilai agama. Anak muda juga membutuhkan ruang sosial, ruang ekspresi, dan ruang untuk membangun pertemanan.

Akan tetapi, muncul sebuah pertanyaan reflektif: Sudahkah dakwah hadir di tengah-tengah mereka?
Ketika kafe-kafe dipenuhi anak muda, apakah para pegiat dakwah juga pernah berpikir untuk menghadirkan pesan-pesan keislaman di ruang-ruang tersebut?

Ketika generasi muda begitu akrab dengan obrolan santai, musik, kopi, dan media sosial, apakah kita sudah cukup kreatif mencari cara agar nilai-nilai agama juga menjadi bagian dari kehidupan mereka?

Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk menunggu anak muda datang ke masjid, sementara kita belum cukup berusaha membawa semangat dakwah mendekati dunia mereka.

Padahal, dakwah bukan sekadar mengajak orang datang ke masjid. Dakwah juga merupakan ikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat.

Di sinilah kita perlu melakukan evaluasi terhadap pendekatan dakwah kita. Jangan sampai dakwah hanya ramai di kalangan mereka yang memang sudah rajin mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi belum cukup menyentuh kelompok yang sesungguhnya membutuhkan pendampingan dan perhatian.

Kita tidak sedang mengusulkan agar setiap kafe berubah menjadi tempat pengajian formal. Bukan pula hendak mengubah seluruh aktivitas anak muda menjadi kegiatan ceramah agama. Yang dibutuhkan adalah kreativitas dalam membangun ruang-ruang perjumpaan yang menyenangkan, terbuka, dan tetap bernilai edukatif.

Bayangkan jika di Ketapang tumbuh komunitas-komunitas dakwah anak muda dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka. Ada Ngopi Bareng Ustaz, diskusi ringan tentang Islam dan kehidupan, kajian kreatif di ruang publik, komunitas literasi Islam, kajian selepas olahraga, atau kegiatan sosial yang digerakkan oleh anak-anak muda masjid.

Bahkan, mengapa tidak mencoba menghadirkan konsep NGOPI: Ngobrol Perkara Iman dalam versi anak muda?

Tidak harus selalu ada ceramah panjang. Bisa dimulai dengan diskusi ringan, membicarakan persoalan pertemanan, keluarga, masa depan, pergaulan, kecemasan menghadapi kehidupan, hingga bagaimana menjadi muslim yang baik di tengah derasnya arus digitalisasi.

Tentu, semua itu membutuhkan pendampingan para ustaz, dai, pengurus masjid, dan komunitas keagamaan. Anak muda perlu diberi ruang untuk menjadi subjek dakwah, bukan hanya objek yang terus-menerus dinasihati.

Sebab, generasi muda tidak cukup hanya diberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh. Mereka juga perlu diajak memahami mengapa agama hadir sebagai pedoman kehidupan. Mereka membutuhkan keteladanan, persahabatan, dialog, dan ruang untuk bertanya tanpa merasa dihakimi.

Dakwah yang baik bukan hanya dakwah yang mampu mengumpulkan banyak orang, tetapi juga dakwah yang mampu menyentuh hati dan mengubah perilaku.

Pada akhirnya, geliat dakwah di Ketapang patut kita syukuri. Masjid-masjid yang hidup, majelis-majelis taklim yang terus berjalan, serta komunitas seperti Jamaah Kopi Sudut merupakan modal sosial dan keagamaan yang sangat berharga.

Namun, perjalanan dakwah tidak boleh berhenti di sana. Kita perlu memperluas jangkauan, memperkaya pendekatan, dan berani memasuki ruang-ruang kehidupan yang selama ini mungkin belum tersentuh.

Sebab, anak-anak muda yang malam ini memenuhi kafe-kafe di Ketapang bukanlah generasi yang boleh kita abaikan. Mereka adalah calon pemimpin, pendidik, orang tua, dan penentu wajah Ketapang pada masa mendatang.

Mungkin sudah waktunya para pegiat dakwah bertanya kepada diri sendiri: jika anak muda belum banyak datang ke masjid, apakah kita sudah cukup kreatif mendekati mereka?

Jangan sampai kita memiliki banyak mimbar, tetapi kehilangan kesempatan menyapa generasi muda.

Sebab, dakwah bukan hanya tentang seberapa jauh suara kita terdengar dari pengeras suara masjid, melainkan seberapa dekat pesan kebaikan mampu menjangkau hati manusia.

Ketapang membutuhkan dakwah yang tidak hanya hidup di mimbar-mimbar masjid, tetapi juga hadir di meja-meja kafe, di ruang-ruang pergaulan, dan di tengah denyut kehidupan anak mudanya.

***Penulis : pegiat dakwah moderat

Share this post