Cegah Radikalisme di Kalangan Muda, Ketua MUI Kalbar Dorong Kolaborasi Praktis Lintas Agama

Cegah Radikalisme di Kalangan Muda, Ketua MUI Kalbar Dorong Kolaborasi Praktis Lintas Agama

Pontianak – Salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Samsul Hidayat, M.A., menekankan pentingnya kolaborasi praktis di antara pelajar lintas agama sebagai strategi kunci untuk menangkal radikalisme digital dan menciptakan kedamaian yang inklusif. Paparan ini disampaikannya dalam kegiatan “Pitutur Cinta” yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2 Juli 2025

Dalam presentasinya yang berjudul “Kolaborasi Pelajar Lintas Agama: Menciptakan Kesejukan dan Kedamaian yang Inklusif dalam Beragama,” Dr. Samsul, yang juga merupakan fasilitator nasional moderasi beragama, mengidentifikasi radikalisme digital dan segregasi sosial berbasis agama sebagai tantangan utama yang dihadapi generasi muda saat ini. Ia menyebut bahwa mahasiswa dan generasi Z termasuk kelompok yang rentan terpapar paham radikal.

“Inklusivitas bukan hanya toleransi pasif, tapi dialog kehidupan sehari-hari,” ujar Dr. Samsul.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Dr. Samsul memaparkan berbagai praktik nyata kolaborasi lintas iman yang telah berjalan di Kalimantan Barat, yang ia sebut sebagai “vernakularisasi dialog” atau praktik iman lokal yang digagas oleh anak muda. Inisiatif-inisiatif ini bergerak dari wacana ke aksi konkret:

  • Sahabat Eko Bhinneka Muhammadiyah (SEKA): Komunitas pemuda yang berdiri sejak 2022 ini fokus pada isu lingkungan sebagai media kolaborasi. Kegiatannya meliputi bersepeda bersama ke rumah-rumah ibadah untuk menanam pohon, diskusi podcast, hingga aksi bersih-bersih pantai.
  • Suar Asa Khatulistiwa (SAKA): Sejak 2014, komunitas ini aktif menggelar kegiatan seperti “Sekolah Cerlang” (Budak Pontianak Cinta Keberagaman), kunjungan ke rumah ibadah, dan pameran karya bertema keberagaman untuk anak muda.
  • Permainan Edukatif: Dr. Samsul menyoroti penggunaan board game seperti “Harmony Island” dan “Jelajah Simbol Harmoni” yang melibatkan pelajar Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu untuk belajar kerja sama dan memecahkan isu-isu sosial dan lingkungan.
  • Inisiatif Pelajar: Program seperti “Dapur Toleransi” yang digagas OSIS dan Rohis untuk berbagi kuliner lintas agama, serta “Ruang Cerita Damai” sebagai forum narasi pengalaman diskriminasi dan penerimaan melalui media video dan podcast.

Dr. Samsul menegaskan bahwa semua agama memiliki fondasi teologis yang mengajarkan cinta kasih universal, seperti konsep

Rahmatan lil ‘alamin dalam Islam, Agape dan Caritas di Kristen, Prema dalam Hindu, dan Metta pada ajaran Buddha.

Agar kolaborasi berhasil, ia menggarisbawahi empat prinsip utama: kesetaraan, keterbukaan untuk saling mendengarkan tanpa menghakimi, empati untuk merasakan iman orang lain, dan aksi bersama melalui proyek konkret.

Sebagai rekomendasi, ia mendorong agar sekolah menjadi “ruang pengalaman lintas iman” (

interfaith experience) dan dikembangkannya modul-modul lintas iman berbasis kearifan lokal.

“Kita tidak perlu menjadi sama untuk bisa bekerja sama,” tegas Dr. Samsul dalam penutupnya. “Kolaborasi lintas iman bukan soal menyatukan ajaran, tapi menyatukan harapan akan masa depan damai Indonesia.”

Share this post