Jakarta – kalbar.mui.or.id, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi dan Komunikasi , KH Masduki Baidhowi, menyerukan adanya transformasi besar dalam metode dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam Wasatiyah (moderat) di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, MUI harus segera beradaptasi dan mencetak kader dai digital untuk menghadapi tantangan era “post-truth”.
Pernyataan ini disampaikannya dalam sambutan ssat membuka acara Satandarisasi dan Optimasi Media MUI yang diselenggarakan oleh Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Pusat, Kamis, 26/3 pagi secara hybrid.
KH Masduki Baidhowi mengungkapkan keprihatinannya terhadap lanskap digital saat ini. Ia menyebut bahwa penganut Islam Wasatiyah yang merupakan mayoritas di Indonesia cenderung menjadi “mayoritas yang diam” (silent majority) di ruang siber. Sebaliknya, kelompok minoritas yang vokal justru lebih aktif menyuarakan pandangannya.
“Kita ini mayoritas yang diam, sementara yang minoritas justru sangat vokal di dunia maya. Akibatnya, suara mereka yang lebih menggema,” ujar Kiai Masduki. “Ini bahaya, karena organisasi keagamaan seperti MUI masih tertinggal dalam mengikuti disrupsi sistem informasi ini.”
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahaya fenomena “post-truth” atau pasca-kebenaran, di mana sebuah kebohongan yang diulang-ulang dapat dianggap sebagai kebenaran oleh publik. Hal ini diperparah dengan adanya “bias konfirmasi,” yakni kecenderungan pengguna internet hanya menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka.
“Metodologi dakwah konvensional tidak lagi relevan. Kita harus beralih ke metodologi berbasis digital jika ingin pesan Islam Wasatiyah sampai ke generasi muda,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, KH Masduki mengusulkan beberapa langkah strategis:
- Mencetak Dai Digital: Melatih para dai muda yang cakap dan aktif menggunakan platform media sosial populer seperti TikTok, YouTube, dan Instagram.
- Konten yang Relevan: Membuat konten dakwah yang praktis, tidak terlalu ideologis, dan menjawab kebutuhan sehari-hari generasi muda, seperti tata cara ibadah.
- Optimalisasi Platform MUI: Menjadikan platform MUI Digital, termasuk situs web dan TV MUI, sebagai pusat rujukan dan verifikasi informasi keagamaan yang beredar.
- Kolaborasi Lintas Komisi: Mendorong sinergi antara Komisi Infokom dan Komisi Dakwah di MUI pusat maupun daerah untuk melahirkan program-program dakwah digital yang efektif.
KH Masduki Baidhowi menekankan bahwa upaya ini adalah sebuah keharusan agar nilai-nilai Islam yang ramah, moderat, dan menyejukkan tidak tergerus oleh narasi-narasi ekstrem di dunia digital. Ia mengajak seluruh elemen MUI untuk berkomitmen penuh dalam melakukan “hijrah” metode dakwah ini demi masa depan Indonesia yang lebih baik.